Berhubung tahun 2018 sebentar lagi akan
berakhir, saya tertarik untuk mengumpulkan album-album yang dirilis sepanjang
2018 yang menjadi favorit saya. Saya bukan jurnalis apalagi kritikus musik,
hanya sok berani saja membuat tulisan ini. Sebenarnya di luar 8 album yang ada
di bawah ini masih banyak album-album rilisan 2018 yang lumayan saya dengarkan,
seperti "Eat the Elephant"-nya A Perfect Circle, "Twin
Fantasy (Face to Face)"-nya Car Seat Headrest, "Post-"-nya
Jeff Rosenstock, atau "The Sciences"-nya Sleep, namun pada
akhirnya saya memilih 8 album di bawah ini yang menurut saya paling
"nyangkut" di telinga saya sepanjang 2018.
Daftar album di bawah ini disusun
berdasarkan preferensi personal yang sudah tentu subyektif. Jika anda merasa
ada album yang seharusnya tidak masuk ke dalam list ini atau ada album yang seharusnya masuk list, silahkan buat Daftar Album 2018 Terbaik/Terfavorit versi anda
sendiri. Cheers!
Catatan: Album-album ini disusun secara
acak, tidak diurutkan dari yang paling bagus ke yang paling biasa-biasa saja, ataupun
sebaliknya.
=====================================
DAUGHTERS – “You Won’t Get What You Want”
(Ipecac Records)
Mengklasifikasikan musik Daughters ke
dalam suatu genre tertentu itu susah, atau malah tidak perlu repot-repot dilakukan.
Seperti yang pernah diucapkan Alexis Marshall, sang vokalis yang kharismatik,
“Kami selalu melakukan apa saja yang kami inginkan pada Daughters. Jika suatu
hari kami merilis (katakanlah) musik jazz,
berarti memang itu yang kami inginkan pada saat itu.” Dengan kata lain, Daughters adalah tipikal band yang dengan senang hati memporak-porandakan persepsi anda soal genre. Daughters tidak mengenal batas, dan mereka tidak peduli dengan pakem.
Setelah dirundung konflik perseteruan
antara Alexis dan Nicholas Sadler, sang gitaris, yang membuat mereka bubar
diam-diam pada 2009 dan akhirnya berdamai empat tahun setelahnya, akhirnya
kuartet berbahaya asal Rhode Island ini kembali merilis full-album setelah 8 tahun (album mereka sebelumnya, “Daughters”, dirilis pada 2010 saat
mereka sudah bubar). Percayalah, ini bukan album reuni alakadarnya. Kesan
pertama yang saya tangkap saat mendengarkan album ini adalah seperti mendengar
The Birthday Party dan The Jesus Lizard sedang jamming membawakan lagu-lagu Orchid era album “Gatefold”, hasilnya adalah sebuah album padat eksperimentasi yang
rusuh nan megah.
Track favorit: “Long Road, No Turns”, “Satan
in the Wait”, “The Reason They Hate
Me”.
_____________________________________________
YOB – “Our Raw Heart”
(Relapse Records)
Siapa yang menyangka jika doom metal
bisa terasa heavy dan dreamy di saat yang bersamaan seperti
yang disajikan YOB lewat album ini? Materi-materi album ke-8 trio asal Oregon
ini ditulis oleh sang frontman, Mike
Scheidt, di rumah sakit di tengah masa penyembuhan dari penyakit diverticulitis akut yang dideritanya.
Mungkin hal itu juga yang menjadi faktor album ini terasa begitu dalam. Nampaknya saat menulis materi album ini,
Mike Scheidt sadar betul jika ini bisa saja jadi karya terakhirnya (diverticulitis akut yang dideritanya
hampir merenggut nyawanya pada awal 2017 lalu).
Dibuka dengan “Ablaze” yang membius dengan riff-riff yang melodius untuk ukuran doom metal, YOB sanggup membangun nuansa kosmik penuh kabut di lagu pembuka yang berdurasi 10 menit ini. Disambung oleh “The Screen” yang menjadi lagu paling "galak" di album ini, baik dari komposisi musiknya, maupun dari gaya bernyanyi Mike Scheidt. “Original Face” menjadi lagu yang temponya paling ngebut dibanding lagu lainnya, namun entah kenapa saya merasa lagu ini justru jadi lagu paling lemah di album ini. Namun bagaimanapun, 1 lagu yang terasa biasa-biasa saja tidak dapat mengurangi kekaguman saya pada album ini, terlebih saat mendengar “Beauty in Falling Leaves” dan title track “Our Raw Heart”, yang membuat saya merasa sedang dalam perjalan psikedelik ke antah berantah, dengan Mike Scheidt sebagai pemandunya.
Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya menyimak album doom metal yang begitu kaya akan dinamika seperti album ini. Mike Scheidt sungguh-sungguh telah berhasil mengalahkan maut dan kembali dengan gagah, saudara-saudara!
Track favorit: “Ablaze”, “Beauty in Falling
Leaves”, “Our Raw Heart”.
_____________________________________________
IDLES – “Joy as an Act of Resistance”
(Partisan Records)
Bayangkan anda sedang berada di acara stand-up comedy dan sang komedian
sompral yang sedang tampil membawa serta rombongan band yang tidak kalah
sompralnya, memainkan punk rock slengean dan penuh energi (walaupun mereka menolak disebut punk), mengiringi sang komedian memuntahkan lirik-lirik penuh sarkasme namun
juga sentimentil di beberapa momen.
Lewat lirik-lirik yang menghibur, sang
komedian mencela toxic masculinity
dan machismo yang norak itu, menyatakan
sikap pro-imigran, mencemooh Brexit, mengenang bayi perempuannya yang meninggal
saat dilahirkan, dan kemudian di akhir acara, di tengah kebisingan yang
memuncak pada lagu penutup, sang komedian sompral itu berteriak “Keep going! Smash it! Ruin it! Destroy the
world! Burn the house down! Unity!”. Tentu saja Joe Talbot bukan komedian
sungguhan seperti yang saya gambarkan di atas, ia adalah penulis lirik yang
brilian, sarkas dan tentu saja brutal.
Track favorit: “Never Fight a Man with a Perm”, “Danny Nedelko”.
_____________________________________________
VEIN – “Errorzone”
(Closed Casket Activities)
Vein adalah salah satu band yang aksi
panggungnya paling dielu-elukan dalam beberapa tahun belakangan, jadi tidak
heran jika full-album perdana mereka
ini sangat dinantikan oleh banyak orang. Jika boleh sedikit sok tahu, menurut
saya “Errorzone” bisa dijadikan sebagai
jembatan penghubung yang tepat antara penikmat chaotic/metallic hardcore dengan
penikmat musik nu-metal untuk headbanging
bersama.
Anda bisa mendengar pengaruh Rorschach, Converge
dan Botch dengan jelas di album ini, dan di saat bersamaan juga anda dapat dengan
mudah mendengar pengaruh Soulfly era awal, serta Deftones, bahkan Korn. Vein sering
dibanding-bandingkan dengan Code Orange karena memiliki warna musik yang hampir
serupa, namun bagi saya keberanian dan keberhasilan eksperimentasi Vein lewat
album ini membuat mereka lebih menarik untuk disimak, setidaknya untuk saat
ini.
Track favorit: “Broken Glass Complexion”, “Doomtech”.
_____________________________________________
DEAFHEAVEN – “Ordinary Corrupt Human Love”
(Anti-)
Nampaknya kata yang tepat untuk
disematkan pada Deafheaven adalah “Inovatif”. Memang musik blackgaze yang
mereka mainkan bukanlah sesuatu yang umum namun tidak juga baru, tapi mereka
berhasil membawanya ke level yang lebih luas dan berhasil membuatnya terdengar
lebih segar di setiap album mereka, mulai dari “Roads to Judah” (2011), “Sunbather”
(2013) yang fenomenal, “New Bermuda”
(2015), hingga yang terbaru; “Ordinary
Corrupt Human Love”.
Album yang dirilis oleh Anti- ini
mewarisi kekuatan album-album mereka sebelumnya untuk mereka poles lebih baik
lagi sehingga membuat album ini memiliki banyak nuansa untuk ditawarkan pada
yang mendengarkan. Alih-alih membuka albumnya dengan raungan distorsi seperti pada album-album mereka sebelumnya, pada album ini Deafheaven memilih membuka album dengan suara ombak dan piano pada “You Without End”, yang membuat saya pada awalnya sempat membatin, “Ini lagu Deafheaven atau Adele?” namun prasangka itu luntur seiring dengan mood yang mereka bangun perlahan. Disambung dengan “Honeycomb” dan “Canary Yellow” yang menyentak dengan sentuhan solo gitar a la alternatif rock 90-an yang sedikit mengingatkan pada The Smashing Pumpkins, terutama lagu “Honeycomb”. Sementara pada “Near” yang mengawang-awang, Deafheaven kembali bermain-main dengan memberi porsi lebih pada sensibilitas shoegaze dan post-metal yang mereka miliki. Bagi saya sendiri, lagu paling menarik di album ini adalah “Night People”, di mana penyanyi wanita kecintaan kita semua, Chelsea Wolfe, turut menyumbangkan suaranya. Pada lagu yang terasa angker namun manis ini juga kita bisa mendengar George Clarke menampilkan kemampuannya bernyanyi dengan melodius.
Singkat kata, menyimak album ini dari awal hingga akhir adalah sebuah pengalaman musikal dan emosional yang sarat dinamika, galak di satu bagian, kemudian menjadi lembut dan mengawang di bagian lain.
Singkat kata, menyimak album ini dari awal hingga akhir adalah sebuah pengalaman musikal dan emosional yang sarat dinamika, galak di satu bagian, kemudian menjadi lembut dan mengawang di bagian lain.
Track favorit: “Honeycomb”, “Canary Yellow”, “Near”, “Night People”.
_____________________________________________
TRIBULATION – “Down Below”
(Century Media Records)
Sebuah tantangan bagi Tribulation,
setelah melahirkan album sehebat “Children
of the Night” pada 2015, album seperti apa lagi yang bisa mereka hasilkan?
Puji Tuhan dan setan, mereka bisa menjawab tantangan itu dengan enteng lewat “Down Below”. Bisa dibilang album ini
adalah rangkuman dari 2 album mereka sebelumnya, “The Formulas of Death” (2013) yang kental akan blackened death
metal dan “Children of the Night” (2015)
yang lebih berwarna dengan berbagai macam elemen tambahan mulai dari goth metal hingga hard rock/heavy metal klasik yang sedikit mengambil pengaruh dari Mercyful Fate. “Down Below” merupakan keberhasilan Tribulation dalam menggabungkan dan mematangkan semua itu.
Secara umum, “Down Below” adalah album goth/black metal yang catchy namun tidak kehilangan kesan "gelap" dan horror-nya sama sekali. Menurut saya, Tribulation adalah band yang tepat untuk mengisi soundtrack jika novel “Dracula” karya Bram Stoker difilmkan kembali. Tribulation juga merupakan satu dari sekian banyak alasan bagi kita untuk tidak pernah bosan menyimak band-band metal dari tanah Skandinavia.
Secara umum, “Down Below” adalah album goth/black metal yang catchy namun tidak kehilangan kesan "gelap" dan horror-nya sama sekali. Menurut saya, Tribulation adalah band yang tepat untuk mengisi soundtrack jika novel “Dracula” karya Bram Stoker difilmkan kembali. Tribulation juga merupakan satu dari sekian banyak alasan bagi kita untuk tidak pernah bosan menyimak band-band metal dari tanah Skandinavia.
Track favorit: “Lady Death”, “Lacrimosa”.
_____________________________________________
MITSKI – “Be the Cowboy”
(Dead Oceans)
Andai saja mesin waktu itu
sungguh-sungguh ada, saya ingin kembali ke tahun 1990 ketika Mitski Miyawaki
baru dilahirkan, hanya untuk menjabat tangannya sekaligus memproklamirkan diri
sebagai penggemar pertamanya. Jujur saja, saya kehabisan kata-kata untuk
menggambarkan betapa terpananya saya dengan album ke-5 Mitski ini. Menurut
Mitski sendiri, album ini berangkat dari bayangan yang ia bangun, yaitu tentang
seseorang yang sedang bernyanyi sendirian di bawah lampu sorot di sebuah
panggung kosong, dikelilingi kegelapan di sekitar panggungnya. Dalam skala yang
lebih personal, album ini merupakan album refleksi bagi Mitski dalam upaya
menemukan kembali koneksi dengan dirinya sendiri setelah sekian lama merasa
terisolasi oleh kehidupan tur sebagai musisi yang mempengaruhinya secara
personal.
Dari segi komposisi musik, Mitski sekali
lagi membuktikan kejeniusannya bermain-main dengan komposisi indie rock yang
dibengkok-bengkokkan sesuka hatinya, membuat tiap lagu di album ini sedikit
susah ditebak arahnya. Jika pada “Puberty
2” (2016) kita masih menjumpai keliaran distorsi gitar hampir di mana-mana,
di “Be the Cowboy” Mitski perlahan
meninggalkan itu (walaupun tidak sepenuhnya) dan memberikan porsi lebih pada
piano dan mulai memasukkan unsur elektronik, bahkan horn section. Setiap lagu di album ini memiliki keunikan
masing-masing, reflektif, kompleks namun manis, semanis kenyataan bahwa Mitski
akan menyambangi Indonesia dalam rangkaian tur album “Be the Cowboy” pada 20 Februari mendatang!
Track favorit: “Geyser”, “Why Didn’t You Stop
Me?”, “A Pearl”, “Me and My Husband”, “Nobody”.
_____________________________________________
SNAIL MAIL – “Lush”
(Matador Records)
Album ini adalah full-album perdana dari Lindsey Jordan, atau yang lebih dikenal
dengan nama proyek solonya, Snail Mail. “Lush”
dirilis pada 8 Juni 2018, tepat 8 hari menjelang ulang tahun Lindsey yang
ke-19, dan hasil positif dari album ini bisa jadi adalah kado ulang tahun
terbaik yang pernah ia peroleh.
Secara garis besar, “Lush” mengangkat tema tentang gadis remaja
(yaitu Lindsey sendiri) dan segala pergolakan yang dialaminya dalam masa
transisi dari remaja menuju dewasa, khususnya tentang bagaimana ia menyikapi
putus cinta dan patah hati, dibungkus dengan komposisi indie pop/rock yang
menyenangkan dan segar. Pada lagu “Pristine”,
Lindsey secara gamblang memperlihatkan kontradiksi yang ada pada dirinya
sebagai bagian dari transformasi dirinya yang remaja menuju dewasa (bukankah
kita semua mengalaminya?). Pada satu bagian ia menerima bahwa patah hati
bukanlah akhir dari segalanya, “If it’s
not supposed to be / Then I’ll just let it be”, namun di momen lain ia
bernyanyi selayaknya remaja naif yang sedang patah hati, “And no more changes / I’ll still love you the same” seakan-akan ia
sudah tidak bisa jatuh cinta lagi di sisa hidupnya. Jadi, apakah album ini terasa
sangat remaja sekali? Tentu saja, tapi juga sangat jujur.
Track favorit: “Pristine”, “Heat Wave”, “Full Control”.








