Saturday, December 8, 2018

Yang Terfavorit Dari 2018 (Sejauh Ini)



Berhubung tahun 2018 sebentar lagi akan berakhir, saya tertarik untuk mengumpulkan album-album yang dirilis sepanjang 2018 yang menjadi favorit saya. Saya bukan jurnalis apalagi kritikus musik, hanya sok berani saja membuat tulisan ini. Sebenarnya di luar 8 album yang ada di bawah ini masih banyak album-album rilisan 2018 yang lumayan saya dengarkan, seperti "Eat the Elephant"-nya A Perfect Circle, "Twin Fantasy (Face to Face)"-nya Car Seat Headrest, "Post-"-nya Jeff Rosenstock, atau "The Sciences"-nya Sleep, namun pada akhirnya saya memilih 8 album di bawah ini yang menurut saya paling "nyangkut" di telinga saya sepanjang 2018.

Daftar album di bawah ini disusun berdasarkan preferensi personal yang sudah tentu subyektif. Jika anda merasa ada album yang seharusnya tidak masuk ke dalam list ini atau ada album yang seharusnya masuk list, silahkan buat Daftar Album 2018 Terbaik/Terfavorit versi anda sendiri. Cheers!

Catatan: Album-album ini disusun secara acak, tidak diurutkan dari yang paling bagus ke yang paling biasa-biasa saja, ataupun sebaliknya.
=====================================

DAUGHTERS – “You Won’t Get What You Want
(Ipecac Records)


Mengklasifikasikan musik Daughters ke dalam suatu genre tertentu itu susah, atau malah tidak perlu repot-repot dilakukan. Seperti yang pernah diucapkan Alexis Marshall, sang vokalis yang kharismatik, “Kami selalu melakukan apa saja yang kami inginkan pada Daughters. Jika suatu hari kami merilis (katakanlah) musik jazz, berarti memang itu yang kami inginkan pada saat itu.” Dengan kata lain, Daughters adalah tipikal band yang dengan senang hati memporak-porandakan persepsi anda soal genre. Daughters tidak mengenal batas, dan mereka tidak peduli dengan pakem.

Setelah dirundung konflik perseteruan antara Alexis dan Nicholas Sadler, sang gitaris, yang membuat mereka bubar diam-diam pada 2009 dan akhirnya berdamai empat tahun setelahnya, akhirnya kuartet berbahaya asal Rhode Island ini kembali merilis full-album setelah 8 tahun (album mereka sebelumnya, “Daughters”, dirilis pada 2010 saat mereka sudah bubar). Percayalah, ini bukan album reuni alakadarnya. Kesan pertama yang saya tangkap saat mendengarkan album ini adalah seperti mendengar The Birthday Party dan The Jesus Lizard sedang jamming membawakan lagu-lagu Orchid era album “Gatefold”, hasilnya adalah sebuah album padat eksperimentasi yang rusuh nan megah.

Track favorit: “Long Road, No Turns”, “Satan in the Wait”, “The Reason They Hate Me”.
_____________________________________________


YOB – “Our Raw Heart
(Relapse Records)


Siapa yang menyangka jika doom metal bisa terasa heavy dan dreamy di saat yang bersamaan seperti yang disajikan YOB lewat album ini? Materi-materi album ke-8 trio asal Oregon ini ditulis oleh sang frontman, Mike Scheidt, di rumah sakit di tengah masa penyembuhan dari penyakit diverticulitis akut yang dideritanya. Mungkin hal itu juga yang menjadi faktor album ini terasa begitu dalam. Nampaknya saat menulis materi album ini, Mike Scheidt sadar betul jika ini bisa saja jadi karya terakhirnya (diverticulitis akut yang dideritanya hampir merenggut nyawanya pada awal 2017 lalu).

Dibuka dengan “Ablaze” yang membius dengan riff-riff yang melodius untuk ukuran doom metal, YOB sanggup membangun nuansa kosmik penuh kabut di lagu pembuka yang berdurasi 10 menit ini. Disambung oleh “The Screen” yang menjadi lagu paling "galak" di album ini, baik dari komposisi musiknya, maupun dari gaya bernyanyi Mike Scheidt. “Original Face” menjadi lagu yang temponya paling ngebut dibanding lagu lainnya, namun entah kenapa saya merasa lagu ini justru jadi lagu paling lemah di album ini. Namun bagaimanapun, 1 lagu yang terasa biasa-biasa saja tidak dapat mengurangi kekaguman saya pada album ini, terlebih saat mendengar “Beauty in Falling Leaves” dan title trackOur Raw Heart”, yang membuat saya merasa sedang dalam perjalan psikedelik ke antah berantah, dengan Mike Scheidt sebagai pemandunya.

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya menyimak album doom metal yang begitu kaya akan dinamika seperti album ini. Mike Scheidt sungguh-sungguh telah berhasil mengalahkan maut dan kembali dengan gagah, saudara-saudara!

Track favorit: “Ablaze”, “Beauty in Falling Leaves”, “Our Raw Heart”.
_____________________________________________


IDLES – “Joy as an Act of Resistance
(Partisan Records)


Bayangkan anda sedang berada di acara stand-up comedy dan sang komedian sompral yang sedang tampil membawa serta rombongan band yang tidak kalah sompralnya, memainkan punk rock slengean dan penuh energi (walaupun mereka menolak disebut punk), mengiringi sang komedian memuntahkan lirik-lirik penuh sarkasme namun juga sentimentil di beberapa momen.

Lewat lirik-lirik yang menghibur, sang komedian mencela toxic masculinity dan machismo yang norak itu, menyatakan sikap pro-imigran, mencemooh Brexit, mengenang bayi perempuannya yang meninggal saat dilahirkan, dan kemudian di akhir acara, di tengah kebisingan yang memuncak pada lagu penutup, sang komedian sompral itu berteriak “Keep going! Smash it! Ruin it! Destroy the world! Burn the house down! Unity!”. Tentu saja Joe Talbot bukan komedian sungguhan seperti yang saya gambarkan di atas, ia adalah penulis lirik yang brilian, sarkas dan tentu saja brutal.

Track favorit: “Never Fight a Man with a Perm”, “Danny Nedelko”.
_____________________________________________


VEIN – “Errorzone
(Closed Casket Activities)


Vein adalah salah satu band yang aksi panggungnya paling dielu-elukan dalam beberapa tahun belakangan, jadi tidak heran jika full-album perdana mereka ini sangat dinantikan oleh banyak orang. Jika boleh sedikit sok tahu, menurut saya “Errorzone” bisa dijadikan sebagai jembatan penghubung yang tepat antara penikmat chaotic/metallic hardcore dengan penikmat musik nu-metal untuk headbanging bersama.

Anda bisa mendengar pengaruh Rorschach, Converge dan Botch dengan jelas di album ini, dan di saat bersamaan juga anda dapat dengan mudah mendengar pengaruh Soulfly era awal, serta Deftones, bahkan Korn. Vein sering dibanding-bandingkan dengan Code Orange karena memiliki warna musik yang hampir serupa, namun bagi saya keberanian dan keberhasilan eksperimentasi Vein lewat album ini membuat mereka lebih menarik untuk disimak, setidaknya untuk saat ini.

Track favorit: “Broken Glass Complexion”, “Doomtech”.
_____________________________________________


DEAFHEAVEN – “Ordinary Corrupt Human Love
(Anti-)


Nampaknya kata yang tepat untuk disematkan pada Deafheaven adalah “Inovatif”. Memang musik blackgaze yang mereka mainkan bukanlah sesuatu yang umum namun tidak juga baru, tapi mereka berhasil membawanya ke level yang lebih luas dan berhasil membuatnya terdengar lebih segar di setiap album mereka, mulai dari “Roads to Judah” (2011), “Sunbather” (2013) yang fenomenal, “New Bermuda” (2015), hingga yang terbaru; “Ordinary Corrupt Human Love”.

Album yang dirilis oleh Anti- ini mewarisi kekuatan album-album mereka sebelumnya untuk mereka poles lebih baik lagi sehingga membuat album ini memiliki banyak nuansa untuk ditawarkan pada yang mendengarkan. Alih-alih membuka albumnya dengan raungan distorsi seperti pada album-album mereka sebelumnya, pada album ini Deafheaven memilih membuka album dengan suara ombak dan piano pada “You Without End”, yang membuat saya pada awalnya sempat membatin, “Ini lagu Deafheaven atau Adele?” namun prasangka itu luntur seiring dengan mood yang mereka bangun perlahan. Disambung dengan “Honeycomb” dan “Canary Yellow” yang menyentak dengan sentuhan solo gitar a la alternatif rock 90-an yang sedikit mengingatkan pada The Smashing Pumpkins, terutama lagu “Honeycomb”. Sementara pada “Near” yang mengawang-awang, Deafheaven kembali bermain-main dengan memberi porsi lebih pada sensibilitas shoegaze dan post-metal yang mereka miliki. Bagi saya sendiri, lagu paling menarik di album ini adalah “Night People”, di mana penyanyi wanita kecintaan kita semua, Chelsea Wolfe, turut menyumbangkan suaranya. Pada lagu yang terasa angker namun manis ini juga kita bisa mendengar George Clarke menampilkan kemampuannya bernyanyi dengan melodius.

Singkat kata, menyimak album ini dari awal hingga akhir adalah sebuah pengalaman musikal dan emosional yang sarat dinamika, galak di satu bagian, kemudian menjadi lembut dan mengawang di bagian lain.

Track favorit: “Honeycomb”, “Canary Yellow”, “Near”, “Night People”.
_____________________________________________


TRIBULATION – “Down Below
(Century Media Records)


Sebuah tantangan bagi Tribulation, setelah melahirkan album sehebat “Children of the Night” pada 2015, album seperti apa lagi yang bisa mereka hasilkan? Puji Tuhan dan setan, mereka bisa menjawab tantangan itu dengan enteng lewat “Down Below”. Bisa dibilang album ini adalah rangkuman dari 2 album mereka sebelumnya, “The Formulas of Death” (2013) yang kental akan blackened death metal dan “Children of the Night” (2015) yang lebih berwarna dengan berbagai macam elemen tambahan mulai dari goth metal hingga hard rock/heavy metal klasik yang sedikit mengambil pengaruh dari Mercyful Fate. “Down Below” merupakan keberhasilan Tribulation dalam menggabungkan dan mematangkan semua itu.

Secara umum, “Down Below” adalah album goth/black metal yang catchy namun tidak kehilangan kesan "gelap" dan horror-nya sama sekali. Menurut saya, Tribulation adalah band yang tepat untuk mengisi soundtrack jika novel “Dracula” karya Bram Stoker difilmkan kembali. Tribulation juga merupakan satu dari sekian banyak alasan bagi kita untuk tidak pernah bosan menyimak band-band metal dari tanah Skandinavia.

Track favorit: “Lady Death”, “Lacrimosa”.
_____________________________________________ 


MITSKI – “Be the Cowboy
(Dead Oceans)


Andai saja mesin waktu itu sungguh-sungguh ada, saya ingin kembali ke tahun 1990 ketika Mitski Miyawaki baru dilahirkan, hanya untuk menjabat tangannya sekaligus memproklamirkan diri sebagai penggemar pertamanya. Jujur saja, saya kehabisan kata-kata untuk menggambarkan betapa terpananya saya dengan album ke-5 Mitski ini. Menurut Mitski sendiri, album ini berangkat dari bayangan yang ia bangun, yaitu tentang seseorang yang sedang bernyanyi sendirian di bawah lampu sorot di sebuah panggung kosong, dikelilingi kegelapan di sekitar panggungnya. Dalam skala yang lebih personal, album ini merupakan album refleksi bagi Mitski dalam upaya menemukan kembali koneksi dengan dirinya sendiri setelah sekian lama merasa terisolasi oleh kehidupan tur sebagai musisi yang mempengaruhinya secara personal.

Dari segi komposisi musik, Mitski sekali lagi membuktikan kejeniusannya bermain-main dengan komposisi indie rock yang dibengkok-bengkokkan sesuka hatinya, membuat tiap lagu di album ini sedikit susah ditebak arahnya. Jika pada “Puberty 2” (2016) kita masih menjumpai keliaran distorsi gitar hampir di mana-mana, di “Be the Cowboy” Mitski perlahan meninggalkan itu (walaupun tidak sepenuhnya) dan memberikan porsi lebih pada piano dan mulai memasukkan unsur elektronik, bahkan horn section. Setiap lagu di album ini memiliki keunikan masing-masing, reflektif, kompleks namun manis, semanis kenyataan bahwa Mitski akan menyambangi Indonesia dalam rangkaian tur album “Be the Cowboy” pada 20 Februari mendatang!

Track favorit: “Geyser”, “Why Didn’t You Stop Me?”, “A Pearl”, “Me and My Husband”, “Nobody”.
_____________________________________________


SNAIL MAIL – “Lush
(Matador Records)


Album ini adalah full-album perdana dari Lindsey Jordan, atau yang lebih dikenal dengan nama proyek solonya, Snail Mail. “Lush” dirilis pada 8 Juni 2018, tepat 8 hari menjelang ulang tahun Lindsey yang ke-19, dan hasil positif dari album ini bisa jadi adalah kado ulang tahun terbaik yang pernah ia peroleh.

Secara garis besar, “Lush” mengangkat tema tentang gadis remaja (yaitu Lindsey sendiri) dan segala pergolakan yang dialaminya dalam masa transisi dari remaja menuju dewasa, khususnya tentang bagaimana ia menyikapi putus cinta dan patah hati, dibungkus dengan komposisi indie pop/rock yang menyenangkan dan segar. Pada lagu “Pristine”, Lindsey secara gamblang memperlihatkan kontradiksi yang ada pada dirinya sebagai bagian dari transformasi dirinya yang remaja menuju dewasa (bukankah kita semua mengalaminya?). Pada satu bagian ia menerima bahwa patah hati bukanlah akhir dari segalanya, “If it’s not supposed to be / Then I’ll just let it be”, namun di momen lain ia bernyanyi selayaknya remaja naif yang sedang patah hati, “And no more changes / I’ll still love you the same” seakan-akan ia sudah tidak bisa jatuh cinta lagi di sisa hidupnya. Jadi, apakah album ini terasa sangat remaja sekali? Tentu saja, tapi juga sangat jujur.

Track favorit: “Pristine”, “Heat Wave”, “Full Control”.

Tuesday, December 19, 2017

[RESENSI BUKU] "Isyarat Cinta yang Keras Kepala"

Judul: Isyarat Cinta yang Keras Kepala
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: 2017 (Cetakan Keempat)


Peribahasa “jangan menilai buku dari sampulnya” sepertinya memang benar adanya, atau dalam kasus ini, “jangan menilai buku dari judulnya”, sebab jujur saja awalnya saya agak skeptis pada buku ini karena judulnya yang menurut saya agak menye-menye. Lantas, jika tidak suka dengan judulnya, kenapa akhirnya saya beli juga? Jujur, ini pilihan acak juga nekat, ke toko buku pun karena iseng saja ingin lihat-lihat, semacam berjudi dengan uang yang ada di dompet saat itu. Awalnya saya pikir ini adalah sebuah buku tentang cinta-cintaan, tapi untungnya saya salah. Terima kasih saya haturkan pada Puthut EA karena sudah mengobrak-abrik prakiraan dangkal saya itu.

Isyarat Cinta yang Keras Kepala adalah buku yang berupa kumpulan cerita-cerita pendek karya Puthut EA yang ditulis dalam rentang waktu sekian lama, dan masing-masing cerita pendek tersebut sudah pernah diterbitkan sebelumnya. Buku yang saya miliki ini adalah cetakan keempat, Isyarat Cinta yang Keras Kepala sendiri merupakan judul dari salah satu cerita pendek yang ada di buku ini.

Oke, kenapa saya bilang saya telah salah menilai buku ini dari judulnya? Karena cerita-cerita pendek dalam buku ini memiliki tema yang lebih luas dari sekadar cinta-cintaan seperti yang saya kira. Ada cerita tentang pertemuan, kehilangan, kebohongan, kematian, upaya berdamai dengan patah hati, budaya, rahasia, hingga hidup yang terenggut kaki-kaki kekuasaan yang tidak pernah puas memijakkan nafsu buasnya.

Ada 15 cerita dalam buku ini, dan hampir kesemuanya ditulis dengan cukup ringan tapi juga cukup dalam, bahkan ada salah satu cerita yang saya sampai harus mengulang membacanya karena si subyek penceritanya ternyata berganti-ganti tanpa aba-aba sehingga bisa membuat sedikit ‘terpeleset’ saat pertama membacanya, tapi menurut saya justru jadi sebuah cara bercerita yang apik. Pada cerita yang lain, Puthut EA juga dengan cara yang cerdik menantang sekaligus menampar kita untuk melihat ke dalam diri kita masing-masing tentang kejujuran sikap, tentang senada atau tidaknya hati, lidah dan laku kita, terkait hubungan kita dengan orang lain. Sangat menyentil menurut saya. Dari 15 cerita pendek yang ada dalam buku ini, cerita kesukaan saya sendiri ada 3; Sebuah Peristiwa tentang Kematian, Orang Terakhir yang Ditunggu dan Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa-Lirik.

Puthut EA memang penulis yang kurang ajar lihainya, walaupun di 1-2 cerita saya kurang bisa mendapatkan gairah ceritanya karena menurut saya agak datar, tapi di sebagian besar lainnya saya bisa menangkap emosi yang dicurahkan Puthut EA ke dalam cerita-ceritanya itu. Secara keseluruhan, saya begitu terbius membaca kumpulan cerita pendek ini sampai-sampai menghabiskan buku ini hanya dalam waktu 1 hari 1 malam, sampai-sampai lupa makan, sampai-sampai lupa mandi, sampai-sampai lupa pada thesis. Sialan kau, Puthut EA.



Friday, November 24, 2017

[RESENSI ALBUM] Melancholic Bitch - "Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera Bagian Pertama"

Melancholic Bitch adalah mitos, adalah yang ada tapi terasa tidak ada dan sebaliknya. Setidaknya itu yang kami, para pendengar setia mereka, rasakan selama ini. Setelah melahirkan Balada Joni dan Susi pada 2009 lalu, Melancholic Bitch seperti tertidur cukup lama.
Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena kesibukan dan kewajiban masing-masing punggawanya yang membuat mereka berpencar dan kerap terpisah benua, sampai akhirnya bulan September lalu semua kerinduan itu dibayar lunas oleh mereka ketika mereka merilis album Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) Bagian Pertama.

Ketika pertama kali saya mengetahui judul album ini, saya lumayan mengernyitkan dahi sambil membatin, “Apa lagi ini, Mas Ugo?” Ya, pertanyaan itu memang mau tidak mau harus dilemparkan ke Ugoran Prasad, sang vokalis yang juga otak di balik tiap narasi mereka, salah satu penulis lirik terbaik yang dimiliki Indonesia, menurut saya. Untungnya pertanyaan itu kemudian bisa terjawab setelah menyimak beberapa interview beliau di kanal-kanal internet yang membahas konsep album ini. Hal lain yang jadi kejutan dari album ini, selain judul dan konsepnya, adalah bergabungnya Danish Wisnu Nugraha (FSTVLST/Niskala) sebagai drummer dan Nadya Hatta (ex-Armada Racun) sebagai keyboardist.

Sudah jadi kebiasaan Melancholic Bitch untuk membuat album dengan satu narasi besar, seperti yang mereka lakukan di Balada Joni dan Susi. Siapa pun yang merasakan tumbuh di era Orde Baru tentunya tidak asing dengan istilah Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), sebuah jargon propaganda ciptaan Orde Baru yang menggambarkan konsep ideal berkeluarga bagi masyarakat Indonesia. Salah satu perpanjangan tangan dari jargon tersebut adalah Program KB (Keluarga Berencana), yang di saat bersamaan, menyuntikkan ideologi politik Orde Baru ke dalam unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.

Ya, album ini membicarakan tentang berbagai dinamika hidup berkeluarga di era Orde Baru. Tentang bagaimana doktrin-doktrin Orde Baru begitu mengakar di kehidupan kita tanpa disadari dan masih terjadi, masih terasa hingga sekarang, 19 tahun setelah rezim itu tumbang. Bagi saya pribadi, album ini seperti melempar saya ke dua dimensi waktu, masa kecil dan masa sekarang.
Lagu “Bioskop, Pisau Lipat” membuka lagi ingatan-ingatan masa kecil kita, di mana pada era itu semua televisi di rumah-rumah keluarga “disuapi” dengan film propaganda Orde Baru, Pemberontakan G30S/PKI, setiap tanggal 30 September malam.
Sementara, lagu “Norma, Moral” dengan lantangnya mempertanyakan kembali nilai-nilai moral yang selama ini kita yakini dan junjung tinggi, yang didoktrinkan pada kita oleh Orde Baru lewat corong pendidikan di sekolah-sekolah. Untuk hal ini, sampai sekarang masih kita rasakan, masih terjadi di sekeliling kita. “Ada guru Pendidikan Moral Pancasila di hari perkawinanmu, di ranjang tempat kau bercumbu/Ia tidak senang mendapati istrimu tak lagi perawan.” Sejauh itulah negara, secara tidak langsung, lewat doktrinnya mengatur dan mengurusi kita, hingga ke hal-hal paling personal, ranjang misalnya.

Lewat album NKKBS Bagian Pertama ini, Melancholic Bitch berhasil kembali dengan gagah, bukan sekadar kembali demi kepentingan romantika bernostalgia bagi para penggemarnya. Mereka berhasil membuat para pendengarnya merenung dan berpikir, seperti yang sudah mereka lakukan lewat Balada Joni dan Susi yang fenomenal itu.
Untuk kelanjutannya, sebaiknya kita tak perlu menunggu sembari berharap-harap, karena begitulah Melancholic Bitch. Seperti kata Ugoran Prasad di konser peluncuran album NKKBS Bagian Pertama pada awal September lalu di Gedung PKKH UGM, “Ini album baru. Jadi, bersabarlah dengan kami.”
Mungkin sekarang saatnya mereka yang bersabar menunggu kita untuk mendengar, menyerap dan memproses NKKBS Bagian Pertama ini, sampai tiba nanti saatnya mereka muncul kembali, entah kapan.

Track favorit: Norma, Moral, Cahaya, Harga, 666, 6, Bioskop, Pisau Lipat.


Melancholic Bitch - "Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera Bagian Pertama"
(Trauma Irama Rekords - 2017)

1. Norma, Moral
2. Cahaya, Harga
3. 666, 6
4. Selat, Malaka
5. Dapur, NKK/BKK
6. Bioskop, Pisau Lipat
7. Aspal, Dukun
8. Trauma, Irama
9. Titik Tolak, Pelarian
10. Peta Langit, Larung
11. Lagu Untuk Resepsi Pernikahan

Wednesday, April 26, 2017

[RESENSI ALBUM] Silampukau - "Dosa, Kota. & Kenangan"

Sebenarnya sudah sangat terlambat untuk mengulas album ini, karena "Dosa, Kota, & Kenangan" dirilis 2 tahun lalu, dan kalau boleh membela diri, alasan keterlambatan ini adalah karena saya baru memiliki blog pribadi tahun ini. Se-ketinggalan-zaman itulah saya.

Jika ada band/grup musik folk (entah apa artinya kata itu sekarang ini) Indonesia dewasa ini yang paling bisa saya nikmati dan paling bisa nyangkut di telinga saya, ia adalah Silampukau. Berbeda dengan grup folk lainnya yang terjebak dalam trend "senja-kopi-rindu-dialog-hujan-semesta-puisi-yang-itu-itu-saja", Silampukau sama sekali tidak mengarah ke situ. Mereka dengan cerdiknya mengangkat cerita-cerita yang sebenarnya biasa-biasa saja dan berlangsung di sekeliling kita sehari-hari menjadi sesuatu yang ciamik dan tidak berlebihan. Surabaya layak berbangga karena telah melahirkan sebuah grup, atau lebih pantas disebut penyampai cerita, secerdas Silampukau.

Lirik-lirik mereka adalah unsur paling kuat di album penuh pertama mereka ini, dan itu yang membuat mereka, sekali lagi, berada di level yang berbeda dengan grup-grup so-called folk yang menjamur di Indonesia beberapa tahun belakangan. Silampukau berhasil menghadirkan senyum-senyum kecil di wajah para pendengarnya, termasuk saya, yang sering dibuat terkejut dengan lirik-lirik mereka yang kadang usil namun di saat yang bersamaan juga mencerahkan.

Track favorit saya? Semuanya!



Silampukau - "Dosa, Kota, & Kenangan"
(Moso'iki Records - 2015)

1. Balada Harian
2. Si Pelanggan
3. Puan Kelana
4. Bola Raya
5. Bianglala
6. Lagu Rantau (Sambat Omah)
7. Doa 1
8. Malam Jatuh di Surabaya
9. Sang Juragan
10. Aku Duduk Menanti