Tuesday, December 19, 2017

[RESENSI BUKU] "Isyarat Cinta yang Keras Kepala"

Judul: Isyarat Cinta yang Keras Kepala
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Buku Mojok
Tahun Terbit: 2017 (Cetakan Keempat)


Peribahasa “jangan menilai buku dari sampulnya” sepertinya memang benar adanya, atau dalam kasus ini, “jangan menilai buku dari judulnya”, sebab jujur saja awalnya saya agak skeptis pada buku ini karena judulnya yang menurut saya agak menye-menye. Lantas, jika tidak suka dengan judulnya, kenapa akhirnya saya beli juga? Jujur, ini pilihan acak juga nekat, ke toko buku pun karena iseng saja ingin lihat-lihat, semacam berjudi dengan uang yang ada di dompet saat itu. Awalnya saya pikir ini adalah sebuah buku tentang cinta-cintaan, tapi untungnya saya salah. Terima kasih saya haturkan pada Puthut EA karena sudah mengobrak-abrik prakiraan dangkal saya itu.

Isyarat Cinta yang Keras Kepala adalah buku yang berupa kumpulan cerita-cerita pendek karya Puthut EA yang ditulis dalam rentang waktu sekian lama, dan masing-masing cerita pendek tersebut sudah pernah diterbitkan sebelumnya. Buku yang saya miliki ini adalah cetakan keempat, Isyarat Cinta yang Keras Kepala sendiri merupakan judul dari salah satu cerita pendek yang ada di buku ini.

Oke, kenapa saya bilang saya telah salah menilai buku ini dari judulnya? Karena cerita-cerita pendek dalam buku ini memiliki tema yang lebih luas dari sekadar cinta-cintaan seperti yang saya kira. Ada cerita tentang pertemuan, kehilangan, kebohongan, kematian, upaya berdamai dengan patah hati, budaya, rahasia, hingga hidup yang terenggut kaki-kaki kekuasaan yang tidak pernah puas memijakkan nafsu buasnya.

Ada 15 cerita dalam buku ini, dan hampir kesemuanya ditulis dengan cukup ringan tapi juga cukup dalam, bahkan ada salah satu cerita yang saya sampai harus mengulang membacanya karena si subyek penceritanya ternyata berganti-ganti tanpa aba-aba sehingga bisa membuat sedikit ‘terpeleset’ saat pertama membacanya, tapi menurut saya justru jadi sebuah cara bercerita yang apik. Pada cerita yang lain, Puthut EA juga dengan cara yang cerdik menantang sekaligus menampar kita untuk melihat ke dalam diri kita masing-masing tentang kejujuran sikap, tentang senada atau tidaknya hati, lidah dan laku kita, terkait hubungan kita dengan orang lain. Sangat menyentil menurut saya. Dari 15 cerita pendek yang ada dalam buku ini, cerita kesukaan saya sendiri ada 3; Sebuah Peristiwa tentang Kematian, Orang Terakhir yang Ditunggu dan Tanpa Tanda Seru: Tiga Penggal Prosa-Lirik.

Puthut EA memang penulis yang kurang ajar lihainya, walaupun di 1-2 cerita saya kurang bisa mendapatkan gairah ceritanya karena menurut saya agak datar, tapi di sebagian besar lainnya saya bisa menangkap emosi yang dicurahkan Puthut EA ke dalam cerita-ceritanya itu. Secara keseluruhan, saya begitu terbius membaca kumpulan cerita pendek ini sampai-sampai menghabiskan buku ini hanya dalam waktu 1 hari 1 malam, sampai-sampai lupa makan, sampai-sampai lupa mandi, sampai-sampai lupa pada thesis. Sialan kau, Puthut EA.



Friday, November 24, 2017

[RESENSI ALBUM] Melancholic Bitch - "Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera Bagian Pertama"

Melancholic Bitch adalah mitos, adalah yang ada tapi terasa tidak ada dan sebaliknya. Setidaknya itu yang kami, para pendengar setia mereka, rasakan selama ini. Setelah melahirkan Balada Joni dan Susi pada 2009 lalu, Melancholic Bitch seperti tertidur cukup lama.
Hal ini sebenarnya bisa dimaklumi karena kesibukan dan kewajiban masing-masing punggawanya yang membuat mereka berpencar dan kerap terpisah benua, sampai akhirnya bulan September lalu semua kerinduan itu dibayar lunas oleh mereka ketika mereka merilis album Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) Bagian Pertama.

Ketika pertama kali saya mengetahui judul album ini, saya lumayan mengernyitkan dahi sambil membatin, “Apa lagi ini, Mas Ugo?” Ya, pertanyaan itu memang mau tidak mau harus dilemparkan ke Ugoran Prasad, sang vokalis yang juga otak di balik tiap narasi mereka, salah satu penulis lirik terbaik yang dimiliki Indonesia, menurut saya. Untungnya pertanyaan itu kemudian bisa terjawab setelah menyimak beberapa interview beliau di kanal-kanal internet yang membahas konsep album ini. Hal lain yang jadi kejutan dari album ini, selain judul dan konsepnya, adalah bergabungnya Danish Wisnu Nugraha (FSTVLST/Niskala) sebagai drummer dan Nadya Hatta (ex-Armada Racun) sebagai keyboardist.

Sudah jadi kebiasaan Melancholic Bitch untuk membuat album dengan satu narasi besar, seperti yang mereka lakukan di Balada Joni dan Susi. Siapa pun yang merasakan tumbuh di era Orde Baru tentunya tidak asing dengan istilah Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS), sebuah jargon propaganda ciptaan Orde Baru yang menggambarkan konsep ideal berkeluarga bagi masyarakat Indonesia. Salah satu perpanjangan tangan dari jargon tersebut adalah Program KB (Keluarga Berencana), yang di saat bersamaan, menyuntikkan ideologi politik Orde Baru ke dalam unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.

Ya, album ini membicarakan tentang berbagai dinamika hidup berkeluarga di era Orde Baru. Tentang bagaimana doktrin-doktrin Orde Baru begitu mengakar di kehidupan kita tanpa disadari dan masih terjadi, masih terasa hingga sekarang, 19 tahun setelah rezim itu tumbang. Bagi saya pribadi, album ini seperti melempar saya ke dua dimensi waktu, masa kecil dan masa sekarang.
Lagu “Bioskop, Pisau Lipat” membuka lagi ingatan-ingatan masa kecil kita, di mana pada era itu semua televisi di rumah-rumah keluarga “disuapi” dengan film propaganda Orde Baru, Pemberontakan G30S/PKI, setiap tanggal 30 September malam.
Sementara, lagu “Norma, Moral” dengan lantangnya mempertanyakan kembali nilai-nilai moral yang selama ini kita yakini dan junjung tinggi, yang didoktrinkan pada kita oleh Orde Baru lewat corong pendidikan di sekolah-sekolah. Untuk hal ini, sampai sekarang masih kita rasakan, masih terjadi di sekeliling kita. “Ada guru Pendidikan Moral Pancasila di hari perkawinanmu, di ranjang tempat kau bercumbu/Ia tidak senang mendapati istrimu tak lagi perawan.” Sejauh itulah negara, secara tidak langsung, lewat doktrinnya mengatur dan mengurusi kita, hingga ke hal-hal paling personal, ranjang misalnya.

Lewat album NKKBS Bagian Pertama ini, Melancholic Bitch berhasil kembali dengan gagah, bukan sekadar kembali demi kepentingan romantika bernostalgia bagi para penggemarnya. Mereka berhasil membuat para pendengarnya merenung dan berpikir, seperti yang sudah mereka lakukan lewat Balada Joni dan Susi yang fenomenal itu.
Untuk kelanjutannya, sebaiknya kita tak perlu menunggu sembari berharap-harap, karena begitulah Melancholic Bitch. Seperti kata Ugoran Prasad di konser peluncuran album NKKBS Bagian Pertama pada awal September lalu di Gedung PKKH UGM, “Ini album baru. Jadi, bersabarlah dengan kami.”
Mungkin sekarang saatnya mereka yang bersabar menunggu kita untuk mendengar, menyerap dan memproses NKKBS Bagian Pertama ini, sampai tiba nanti saatnya mereka muncul kembali, entah kapan.

Track favorit: Norma, Moral, Cahaya, Harga, 666, 6, Bioskop, Pisau Lipat.


Melancholic Bitch - "Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera Bagian Pertama"
(Trauma Irama Rekords - 2017)

1. Norma, Moral
2. Cahaya, Harga
3. 666, 6
4. Selat, Malaka
5. Dapur, NKK/BKK
6. Bioskop, Pisau Lipat
7. Aspal, Dukun
8. Trauma, Irama
9. Titik Tolak, Pelarian
10. Peta Langit, Larung
11. Lagu Untuk Resepsi Pernikahan

Wednesday, April 26, 2017

[RESENSI ALBUM] Silampukau - "Dosa, Kota. & Kenangan"

Sebenarnya sudah sangat terlambat untuk mengulas album ini, karena "Dosa, Kota, & Kenangan" dirilis 2 tahun lalu, dan kalau boleh membela diri, alasan keterlambatan ini adalah karena saya baru memiliki blog pribadi tahun ini. Se-ketinggalan-zaman itulah saya.

Jika ada band/grup musik folk (entah apa artinya kata itu sekarang ini) Indonesia dewasa ini yang paling bisa saya nikmati dan paling bisa nyangkut di telinga saya, ia adalah Silampukau. Berbeda dengan grup folk lainnya yang terjebak dalam trend "senja-kopi-rindu-dialog-hujan-semesta-puisi-yang-itu-itu-saja", Silampukau sama sekali tidak mengarah ke situ. Mereka dengan cerdiknya mengangkat cerita-cerita yang sebenarnya biasa-biasa saja dan berlangsung di sekeliling kita sehari-hari menjadi sesuatu yang ciamik dan tidak berlebihan. Surabaya layak berbangga karena telah melahirkan sebuah grup, atau lebih pantas disebut penyampai cerita, secerdas Silampukau.

Lirik-lirik mereka adalah unsur paling kuat di album penuh pertama mereka ini, dan itu yang membuat mereka, sekali lagi, berada di level yang berbeda dengan grup-grup so-called folk yang menjamur di Indonesia beberapa tahun belakangan. Silampukau berhasil menghadirkan senyum-senyum kecil di wajah para pendengarnya, termasuk saya, yang sering dibuat terkejut dengan lirik-lirik mereka yang kadang usil namun di saat yang bersamaan juga mencerahkan.

Track favorit saya? Semuanya!



Silampukau - "Dosa, Kota, & Kenangan"
(Moso'iki Records - 2015)

1. Balada Harian
2. Si Pelanggan
3. Puan Kelana
4. Bola Raya
5. Bianglala
6. Lagu Rantau (Sambat Omah)
7. Doa 1
8. Malam Jatuh di Surabaya
9. Sang Juragan
10. Aku Duduk Menanti