Sebenarnya sudah sangat terlambat untuk mengulas album ini, karena "Dosa, Kota, & Kenangan" dirilis 2 tahun lalu, dan kalau boleh membela diri, alasan keterlambatan ini adalah karena saya baru memiliki blog pribadi tahun ini. Se-ketinggalan-zaman itulah saya.
Jika ada band/grup musik folk (entah apa artinya kata itu sekarang ini) Indonesia dewasa ini yang paling bisa saya nikmati dan paling bisa nyangkut di telinga saya, ia adalah Silampukau. Berbeda dengan grup folk lainnya yang terjebak dalam trend "senja-kopi-rindu-dialog-hujan-semesta-puisi-yang-itu-itu-saja", Silampukau sama sekali tidak mengarah ke situ. Mereka dengan cerdiknya mengangkat cerita-cerita yang sebenarnya biasa-biasa saja dan berlangsung di sekeliling kita sehari-hari menjadi sesuatu yang ciamik dan tidak berlebihan. Surabaya layak berbangga karena telah melahirkan sebuah grup, atau lebih pantas disebut penyampai cerita, secerdas Silampukau.
Lirik-lirik mereka adalah unsur paling kuat di album penuh pertama mereka ini, dan itu yang membuat mereka, sekali lagi, berada di level yang berbeda dengan grup-grup so-called folk yang menjamur di Indonesia beberapa tahun belakangan. Silampukau berhasil menghadirkan senyum-senyum kecil di wajah para pendengarnya, termasuk saya, yang sering dibuat terkejut dengan lirik-lirik mereka yang kadang usil namun di saat yang bersamaan juga mencerahkan.
Track favorit saya? Semuanya!
Silampukau - "Dosa, Kota, & Kenangan"
(Moso'iki Records - 2015)
1. Balada Harian
2. Si Pelanggan
3. Puan Kelana
4. Bola Raya
5. Bianglala
6. Lagu Rantau (Sambat Omah)
7. Doa 1
8. Malam Jatuh di Surabaya
9. Sang Juragan
10. Aku Duduk Menanti

No comments:
Post a Comment