Judul: Isyarat Cinta yang Keras Kepala
Penulis: Puthut EA
Penerbit: Buku
Mojok
Tahun Terbit: 2017 (Cetakan
Keempat)
Peribahasa “jangan menilai buku dari sampulnya” sepertinya memang benar adanya,
atau dalam kasus ini, “jangan menilai
buku dari judulnya”, sebab jujur saja awalnya saya agak skeptis pada buku ini karena judulnya yang menurut saya agak menye-menye. Lantas, jika tidak suka dengan judulnya, kenapa akhirnya
saya beli juga? Jujur, ini pilihan acak juga nekat, ke toko buku pun karena iseng saja
ingin lihat-lihat, semacam berjudi dengan uang yang ada di dompet saat itu. Awalnya
saya pikir ini adalah sebuah buku tentang cinta-cintaan, tapi untungnya saya salah.
Terima kasih saya haturkan pada Puthut EA karena sudah mengobrak-abrik prakiraan dangkal saya itu.
Isyarat Cinta yang Keras Kepala adalah buku yang berupa kumpulan
cerita-cerita pendek karya Puthut EA yang ditulis dalam rentang waktu sekian
lama, dan masing-masing cerita pendek tersebut sudah pernah diterbitkan
sebelumnya. Buku yang saya miliki ini adalah cetakan keempat, Isyarat Cinta yang Keras Kepala sendiri
merupakan judul dari salah satu cerita pendek yang ada di buku ini.
Oke, kenapa saya bilang saya telah
salah menilai buku ini dari judulnya? Karena cerita-cerita pendek dalam buku ini memiliki
tema yang lebih luas dari sekadar cinta-cintaan seperti yang saya kira. Ada cerita tentang pertemuan,
kehilangan, kebohongan, kematian, upaya berdamai dengan patah hati, budaya, rahasia, hingga hidup yang terenggut kaki-kaki kekuasaan yang tidak pernah puas memijakkan nafsu buasnya.
Ada 15 cerita dalam buku ini, dan hampir
kesemuanya ditulis dengan cukup ringan tapi juga cukup dalam, bahkan ada
salah satu cerita yang saya sampai harus mengulang membacanya karena si subyek penceritanya
ternyata berganti-ganti tanpa aba-aba sehingga bisa membuat sedikit ‘terpeleset’
saat pertama membacanya, tapi menurut saya justru jadi sebuah cara bercerita
yang apik. Pada cerita yang lain, Puthut EA juga dengan cara
yang cerdik menantang sekaligus menampar kita untuk melihat ke dalam diri
kita masing-masing tentang kejujuran sikap, tentang senada atau tidaknya hati, lidah
dan laku kita, terkait hubungan kita dengan orang lain. Sangat menyentil
menurut saya. Dari 15 cerita pendek yang ada dalam buku ini, cerita kesukaan
saya sendiri ada 3; Sebuah Peristiwa
tentang Kematian, Orang Terakhir yang
Ditunggu dan Tanpa Tanda Seru: Tiga
Penggal Prosa-Lirik.
Puthut EA memang penulis yang
kurang ajar lihainya, walaupun di 1-2 cerita saya kurang bisa mendapatkan
gairah ceritanya karena menurut saya agak datar, tapi di sebagian besar lainnya
saya bisa menangkap emosi yang dicurahkan Puthut EA ke dalam cerita-ceritanya
itu. Secara keseluruhan, saya begitu terbius membaca kumpulan cerita pendek ini
sampai-sampai menghabiskan buku ini hanya dalam waktu 1 hari 1 malam,
sampai-sampai lupa makan, sampai-sampai lupa mandi, sampai-sampai lupa pada thesis. Sialan kau, Puthut EA.

No comments:
Post a Comment